Aku ingin
mengisahkan tentang 2 orang yang berbeda karakter. Sebut saja yang pertama
namanya Ayumi dan satu lagi Hikari. Ayumi adalah seorang gadis yang lugas,
cerdas meski tampangnya biasa-biasa aja dan juga bukan orang tajir no 3 dikampungnya.
Sedangkan Hikari adalah seorang akhwat yang pintar, tergolong kaya, dan
tampangnya sungguh menawan namun sayangnya dia adalah orang yang sangat pendiam
dan sulit berteman.
Suatu hari,
mereka sama-sama dipertemukan dalam sebuah acara seminar yang diadakan selama
dua hari. Mau tidak mau mereka pasti akan bicara karna itulah perintah dari
instruktur agar peserta saling mengenal satu sama lain. Minimal nama dan asalnya. Mulanya Ayumi mendekati Hikari serta
mengajaknnya berkenalan. Hikari menyambut perkenalan itu dengan dingin saja.
Setidaknnya itulah yang dirasakan Ayumi. Karna biasanya orang yang diajak
berkenalan selalu membalas nya dengan antusias. Sungguh berbeda dengan Hikari yang
memang dasar dianya orang pendiam. Makanya, Ayumi merasa kurang klop dengan
Hikari. Akhirnya Ayumi pun pergi dan tidak melanjutkan lagi perkenalan itu.
Cukup dia tahu namanya “HIKARI”.
Dilain sisi
Hikari sebenarnya merasa sangat bahagia mendapat teman baru. Ia sangat ingin
berkenalan dengan Ayumi lebih banyak lagi. Bercerita dan berbagi menganai
berbagai hal. Tapi, Hikari tidak mampu mengungkapkan semuanya. Karna sejak dulu
sudah terbiasa tidak banyak bicara. Sebenarnya, ada rasa bersalah yang timbul
dihati Hikari, namun ia tak mampu untuk meminta maaf. Entahlah… begitu sulit
dimengerti alur pikiran Hikari ini.
Hari berikutnya,
Ayumi tidak lagi mendekati Hikari. Mungkin, dia sedikit bosan bicara dengan
orang pendiam. Dan lagi dari kacamata Ayumi, Hikari itu seperti orang yang
sombong. “Mentang-metang dia cantik , mentang-mentang dia kaya” itulah yang ada
dipikiran Ayumi. Padahal dihatinya ia sangat ingin berteman dengan Hikari.
Karna sepertinya ia bisa membimbing Ayumi belajar islam.
Akhir cerita
mereka hanya saling diam, tidak ada yang ingin memdekati lagi. Sehingga
perkenalan pun terputus sampai disitu. Tidak jadi bersahabat..
Hikmah :
Seringkali yang menjadi hijab
untuk sebuah ukhuwah yang dirindu itu adalah diri kita sendiri. Pikiran kita
menutupi parasaan yang sebenarnya, hingga kita tidak dapat menyatakannya.
Buanglah fikiran negatif!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar