Minggu, 22 Desember 2013

Judul : ....(masih belum terfikir)



Ai berasal dari keluarga yang sederhana, bahkan mungkin sangat sederhana jika tidak ingin dikatakan miskin. Namun, Ai memiliki cita-cita dan mimpi yang tinggi. Ai ingin menjadi Mentri Kesehatan. Selama ini Ai adalah orang yang sangat optimis ditambah lagi dorongan dari kedua orang tuanya agar Ai kelak menjadi orang yang berguna bagi keluarganya, masyarakat dan Negara ini.”Ai, suatu saat Mama ingin melihat Ai menjadi orang sukses dan terkenal, sehingga tidak ada lagi orang yang akan meremehkan kita” Ujar Mama Ai saat Ai hendak pamit untuk ikut ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Kata-kata mama tersebut terus terngiang di telinga Ai. Maka saat semangat nya turun Ai selalu bisa mengembalikan semangatnya dengan mengingat pesan sang Mama.
Ai mengikuti ujian seleksi jauh dari kampungnya. Karna tempat ujian untuk masuk perguruan tinggi itu hanya ada di kota besar saja. Untuk kesana Ai membutuhkan waktu lebih kurang 6 jam perjalanan. Makanya Ai memutuskan untuk berangkat ke Ibukota propinsi itu 2 hari sebelum ujian dimulai. Ia pergi hanya sendirian padahal terakhir kali ia menginjakkan kaki di sana adalah sewaktu SD. Sekarang sudah 7 tahun berlalu, namun Ai tak pesimis ia yakin bisa sampai dengan selamat dan yang pasti tidak tersesat. Sebenarnya di Ibukota sudah ada saudara Ai yang akan menjemputnya ke tempat perhentian bus sekaligus mencarikan Ai tepat penginapan selama disana.
Pagi itu Ai diantar oleh Mama dan Papanya menuggu bus yang akan membawa Ai menjemput impiannya menjadi mahasiswi. Bus datang setelah menunggu hampir 1 jam. Memang di kampung menunggu bus 1 atau 2 jam itu sudah biasa. Maklum, kampung Ai letakknya terpelosok dan jalannya masih belum di aspal.
Bismillah.. Ma…Pa… Ai pamit ya… Do’akan Ai agar sukses ujiannya .Assalamu’alaykum…”. Ai pamit sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
Ai sampai dikota sudah sore. Alhamdulillah saudaranya sudah menunggu dan langsung mengantar Ai ke tempat yang akan ditinggali Ai selama mengikuti ujian. Rumah itu adalah rumah temannya saudara Ai, nama nya Uni Melati. Awalnya Ai agak canggung dan malu-malu, tapi karna keramahan dari keluarga Uni Melati , Ai mejadi sedikt percaya diri untuk berbaur.
Tepat satu bulan sebelum ujian SNMPTN Ai sudah menerima hasil kelulusan ujian di madrasahnya. Alhamdulillah nilai Ai memuaskan. Dalam masa satu bulan itulah persiapan untuk ujian ini dilakukan, teman-teman Ai banyak mengambil kursus atau bimbingan belajar agar ujiannya sukses. Namun, Ai harus bersabar, ia tidak mampu seperti teman-temannya. Maklum keuangan keluarga Ai sangat terbatas. Jadilah, Ai memohon sama Mama nya agar dibelikan saja buku soal-soal ujian tahun sebelumnya. Akhirnya Mama mengabulkan permintaannya dan membelikan satu buah buku untuk persiapan ujian.
Ai paham bahwa satu buku mungkin saja tidak cukup untuk mencater satu kursi di perguruan tinggi impiannya, mengingat persiapan temannya yang begitu luar biasa. Namun Ai punya senjata untuk melawan perasaan batinnya sendiri. Ia kembali mengingat pesan Mama sebelum ai berangkat. “Aku PASTI BISA, karna Allah bersamaku” Ucap Ai lirih.
Hari pertama ujian, Ai berangkat pagi sekali diantar oleh kak Melati. Ai berusaha agar terlihat percaya diri . Meskipun sebenarnya Ai agak surut juga melihat begitu banyak nya orang yang mengikiuti ujian ini. Apalagi tampang mereka seperti anak kota semua, sedangkan Ai hanyalah anak kampung yang mencoba pertaruhkan nasib dan impiannya. “Ah…. Biar saja mereka, yang penting aku harus memberikan yang terbaik. “ ucap Ai dalam hati. Bismillaah… Akhirnya ujian hari pertama dan kedua berjalan lancar. Ai berharap agar Allah menetapkan takdir terbaik untuknya.
Beberapa minggu setelah ujian tibalah saat pengumuman siapa yang berhak mendapat gelar mahasiswa. Ai cemas dan takut. Bagaimana nasibnya, apakah kuliah tahun ini atau harus menunggu tahun berikutnya.  Ai tidak berani melihat sendiri pengumuman kelulusan itu, akhirnya ia menghubungi temannya untuk melihat  hasil ujian Ai. “Selamat ya Ai, kamu lulus di jurusan Farmasi Universitas Indonesia”. Isi pesan dari teman Ai.
Hah, serius?? Gak bohongkan??” Ai tidak percaya. “iya, Ai kamu lulus…”
Tak terkira syukur Ai saat itu, ia langsung sujud syukur dan memberitahu kedua orang tuanya. Mama dan Papa Ai terlihat sangat gembira. Namun, dibalik itu Ai menangkap ada rasa cemas dan khawatir dari wajah keduanya. Mungkinkah hal ini karna biaya kuliah yang tidak sedikit?
Tak lama kemudian Mama membuka suara seolah menjawab pikiran Ai saat itu “ Nak, Mama sangat senang kamu bisa lulus dengan persaingan yang sangat ketat. Tapi, keuangan keluarga kita saat ini sangat tidak memungkinkan untuk membayar uang masuk kuliah mu, Nak. “ Insha Allah kami akan akan usahakan agar dapat meminjam dahulu, namun kalau tidak ada, harap keikhlasan kamu untuk rela menunda dulu keinginan untuk kuliah.”
Bagaikan petir menyambar di terik mentari, Ai merasakan bintang yang berpijar memudar dan jatuh dikepalanya. Mimpinya yang tinggal selangkah lagi,terancam tak sampai. Namun bukan Ai namanya jika saat itu menangis sambil guling-guling dihadapan orang tuanya. Justru Ai malah bersifat biasa aja, “Ya, kalau bukan rezeki maka Ai ikhlas ma…  (Hiks..Hiks dalam hati)
Hari pendaftaran semakin dekat, namun uang yang jumlahnya 8 juta tersebut masih belum didapatkan. Hati Ai semakin gusar, galau, sedih, bingung ,dan cemas. Ai tidak tahu kalau Mamanya sudah pergi kesana kemari ntuk meminjam uang. Ai tak tahu bahwa Mamanya lebih pusing dan lebih sedih dibanding dirinya. Namun, Mama Ai tak sedikitpun melihatkan kecemasannya. Ai memang egois, hanya memikirkan perasaan nya sendiri. Padahal seorang ibu jauh lebih sedih dan akan sangat terluka ketika anaknya tidak mendapat apa yang ia impikan.
Akhirnya dua hari sebelum pendaftaran ditutup Mama Ai mendapat pinjaman dari seorang karabat. Entah bagaimaan Mama bisa meyakinkan dan menahan malu demi Ai. Demi masa depan Ai…
Mama dan Papa Ai terus berusaha agar anaknya bisa kuliah. Agar anaknya bisa merasakan pendidikan yang diidam-idamkan setiap orang.  Ai sangat terharu dengan pengorbanan, rasa lelah, rasa malu ditanggung orang tuanya demi menghantarkan Ai untuk menggapai impiannya. Memeluk erat cita-citanya. Menyelamatkan harapan yang hampir runtuh. Membangkitkan semangat Ai agar terus memberikan yang terbaik. Entah apa yang bisa membalas jasa kedua orang tua.

#Seorang ibu meskipun terlihat lemah, sebenarnya mereka adalah orang terkuat. Melahirkanmu saja nyawa taruhannya. Cinta seperti apakah yang dimiliki seorang ibu???Mencintai namun tak pernah mengharapkan balasan. Mencintai sepenuh jiwa..
Mencintai meski berkali-kali disakiti..

Khalidazia
Wisma SQ, 22 Desember 2013

For My beloved : Amak dan Abah ………….

Tidak ada komentar: