Ai berasal dari
keluarga yang sederhana, bahkan mungkin sangat sederhana jika tidak ingin
dikatakan miskin. Namun, Ai memiliki cita-cita dan mimpi yang tinggi. Ai ingin
menjadi Mentri Kesehatan. Selama ini Ai adalah orang yang sangat optimis
ditambah lagi dorongan dari kedua orang tuanya agar Ai kelak menjadi orang yang
berguna bagi keluarganya, masyarakat dan Negara ini.”Ai, suatu saat Mama
ingin melihat Ai menjadi orang sukses dan terkenal, sehingga tidak ada lagi orang
yang akan meremehkan kita” Ujar Mama Ai saat Ai hendak pamit untuk ikut
ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Kata-kata mama tersebut terus terngiang
di telinga Ai. Maka saat semangat nya turun Ai selalu bisa mengembalikan
semangatnya dengan mengingat pesan sang Mama.
Ai mengikuti
ujian seleksi jauh dari kampungnya. Karna tempat ujian untuk masuk perguruan
tinggi itu hanya ada di kota besar saja. Untuk kesana Ai membutuhkan waktu
lebih kurang 6 jam perjalanan. Makanya Ai memutuskan untuk berangkat ke Ibukota
propinsi itu 2 hari sebelum ujian dimulai. Ia pergi hanya sendirian padahal
terakhir kali ia menginjakkan kaki di sana adalah sewaktu SD. Sekarang sudah 7
tahun berlalu, namun Ai tak pesimis ia yakin bisa sampai dengan selamat dan
yang pasti tidak tersesat. Sebenarnya di Ibukota sudah ada saudara Ai yang akan
menjemputnya ke tempat perhentian bus sekaligus mencarikan Ai tepat penginapan
selama disana.
Pagi itu Ai
diantar oleh Mama dan Papanya menuggu bus yang akan membawa Ai menjemput
impiannya menjadi mahasiswi. Bus datang setelah menunggu hampir 1 jam. Memang
di kampung menunggu bus 1 atau 2 jam itu sudah biasa. Maklum, kampung Ai
letakknya terpelosok dan jalannya masih belum di aspal.
“Bismillah..
Ma…Pa… Ai pamit ya… Do’akan Ai agar sukses ujiannya .Assalamu’alaykum…”. Ai
pamit sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
Ai sampai dikota
sudah sore. Alhamdulillah saudaranya sudah menunggu dan langsung mengantar Ai
ke tempat yang akan ditinggali Ai selama mengikuti ujian. Rumah itu adalah
rumah temannya saudara Ai, nama nya Uni Melati. Awalnya Ai agak canggung dan
malu-malu, tapi karna keramahan dari keluarga Uni Melati , Ai mejadi sedikt
percaya diri untuk berbaur.
Tepat satu bulan
sebelum ujian SNMPTN Ai sudah menerima hasil kelulusan ujian di madrasahnya.
Alhamdulillah nilai Ai memuaskan. Dalam masa satu bulan itulah persiapan untuk
ujian ini dilakukan, teman-teman Ai banyak mengambil kursus atau bimbingan
belajar agar ujiannya sukses. Namun, Ai harus bersabar, ia tidak mampu seperti
teman-temannya. Maklum keuangan keluarga Ai sangat terbatas. Jadilah, Ai memohon
sama Mama nya agar dibelikan saja buku soal-soal ujian tahun sebelumnya.
Akhirnya Mama mengabulkan permintaannya dan membelikan satu buah buku untuk
persiapan ujian.
Ai paham bahwa
satu buku mungkin saja tidak cukup untuk mencater satu kursi di perguruan
tinggi impiannya, mengingat persiapan temannya yang begitu luar biasa. Namun Ai
punya senjata untuk melawan perasaan batinnya sendiri. Ia kembali mengingat
pesan Mama sebelum ai berangkat. “Aku PASTI BISA, karna Allah bersamaku” Ucap Ai
lirih.
Hari pertama
ujian, Ai berangkat pagi sekali diantar oleh kak Melati. Ai berusaha agar
terlihat percaya diri . Meskipun sebenarnya Ai agak surut juga melihat begitu
banyak nya orang yang mengikiuti ujian ini. Apalagi tampang mereka seperti anak
kota semua, sedangkan Ai hanyalah anak kampung yang mencoba pertaruhkan nasib dan
impiannya. “Ah…. Biar saja mereka, yang penting aku harus memberikan yang
terbaik. “ ucap Ai dalam hati. Bismillaah… Akhirnya ujian hari pertama dan
kedua berjalan lancar. Ai berharap agar Allah menetapkan takdir terbaik
untuknya.
Beberapa minggu
setelah ujian tibalah saat pengumuman siapa yang berhak mendapat gelar
mahasiswa. Ai cemas dan takut. Bagaimana nasibnya, apakah kuliah tahun ini atau
harus menunggu tahun berikutnya. Ai
tidak berani melihat sendiri pengumuman kelulusan itu, akhirnya ia menghubungi
temannya untuk melihat hasil ujian Ai. “Selamat
ya Ai, kamu lulus di jurusan Farmasi Universitas Indonesia”. Isi pesan dari
teman Ai.
“Hah, serius?? Gak bohongkan??”
Ai tidak percaya. “iya, Ai kamu lulus…”
Tak terkira
syukur Ai saat itu, ia langsung sujud syukur dan memberitahu kedua orang
tuanya. Mama dan Papa Ai terlihat sangat gembira. Namun, dibalik itu Ai menangkap
ada rasa cemas dan khawatir dari wajah keduanya. Mungkinkah hal ini karna biaya
kuliah yang tidak sedikit?
Tak lama
kemudian Mama membuka suara seolah menjawab pikiran Ai saat itu “ Nak, Mama
sangat senang kamu bisa lulus dengan persaingan yang sangat ketat. Tapi, keuangan
keluarga kita saat ini sangat tidak memungkinkan untuk membayar uang masuk
kuliah mu, Nak. “ Insha Allah kami akan akan usahakan agar dapat meminjam
dahulu, namun kalau tidak ada, harap keikhlasan kamu untuk rela menunda dulu
keinginan untuk kuliah.”
Bagaikan petir
menyambar di terik mentari, Ai merasakan bintang yang berpijar memudar dan jatuh
dikepalanya. Mimpinya yang tinggal selangkah lagi,terancam tak sampai. Namun
bukan Ai namanya jika saat itu menangis sambil guling-guling dihadapan orang
tuanya. Justru Ai malah bersifat biasa aja, “Ya, kalau bukan rezeki maka Ai
ikhlas ma… “ (Hiks..Hiks dalam hati)
Hari pendaftaran
semakin dekat, namun uang yang jumlahnya 8 juta tersebut masih belum
didapatkan. Hati Ai semakin gusar, galau, sedih, bingung ,dan cemas. Ai tidak
tahu kalau Mamanya sudah pergi kesana kemari ntuk meminjam uang. Ai tak tahu
bahwa Mamanya lebih pusing dan lebih sedih dibanding dirinya. Namun, Mama Ai tak
sedikitpun melihatkan kecemasannya. Ai memang egois, hanya memikirkan perasaan nya
sendiri. Padahal seorang ibu jauh lebih sedih dan akan sangat terluka ketika
anaknya tidak mendapat apa yang ia impikan.
Akhirnya dua
hari sebelum pendaftaran ditutup Mama Ai mendapat pinjaman dari seorang
karabat. Entah bagaimaan Mama bisa meyakinkan dan menahan malu demi Ai. Demi
masa depan Ai…
Mama dan Papa Ai
terus berusaha agar anaknya bisa kuliah. Agar anaknya bisa merasakan pendidikan
yang diidam-idamkan setiap orang. Ai
sangat terharu dengan pengorbanan, rasa lelah, rasa malu ditanggung orang
tuanya demi menghantarkan Ai untuk menggapai impiannya. Memeluk erat
cita-citanya. Menyelamatkan harapan yang hampir runtuh. Membangkitkan semangat
Ai agar terus memberikan yang terbaik. Entah apa yang bisa membalas jasa kedua
orang tua.
#Seorang ibu meskipun terlihat
lemah, sebenarnya mereka adalah orang terkuat. Melahirkanmu saja nyawa taruhannya.
Cinta seperti apakah yang dimiliki seorang ibu???Mencintai namun tak pernah
mengharapkan balasan. Mencintai sepenuh jiwa..
Mencintai meski berkali-kali disakiti..
Mencintai meski berkali-kali disakiti..
Khalidazia
Wisma SQ, 22 Desember 2013
For My beloved : Amak dan Abah ………….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar